Ketua Organisasi Wartawan di Jombang Diduga Gelapkan Uang Bantuan Puluhan Juta -->

Pimred

Pimred

Javatimes

Ketua Organisasi Wartawan di Jombang Diduga Gelapkan Uang Bantuan Puluhan Juta

javatimesonline
19 Oktober 2023

Ilustrasi

JOMBANG, DJAVATIMES -- Anggaran APBD Kabupaten Jombang sejatinya adalah uang rakyat. Tentu sudah sepatutnya jika uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan masyarakat, khalayak umum, atau kegiatan-kegiatan yang menunjang kinerja dan program-program yang berhubungan dengan Pemkab Jombang.


Tapi ironisnya, niat baik Pemkab Jombang melalui dana hibah yang notabane bersumber dari uang rakyat (APBD) tersebut, pada praktiknya disalahgunakan oleh oknum ketua organisasi tertentu. 


Sebagaimana misalnya anggaran belanja bansos dan hibah dari Pemkab Jombang. Data dari sumber disebutkan, anggaran dana hibah Tahun Anggaran (TA) 2022 sebesar Rp 25 juta untuk salah satu  organisasi wartawan di Jombang sebut saja organisasi A. Hal yang seharusnya bisa membantu untuk menghidupkan organisasi A tersebut diduga disalahgunakan oleh ketuanya sendiri.


Narasumber yang juga salah satu pengurus di organisasi A sebut saja Haba (bukan nama sebenarnya) menceritakan bahwa dirinya mengetahui bahwa organisasi yang diikutinya menerima dana hibah. Hanya saja ia tak tahu kemana larinya dana tersebut.

Saya adalah bagian pengurus dari organisasi tersebut dan saya juga tahu bahwa organisasi saya mendapatkan bantuan berupa dana hibah tahun 2022 dari APBD Jombang. Tetapi saya tidak pernah tahu kapan ngambilnya, berapa nominalnya dan peruntukan dana hibah tersebut untuk apa, cerita Haba.


Sejak organisasi tersebut terbentuk di Jombang, saya dan beberapa teman yang juga anggota organisasi A tidak pernah dilibatkan terkait dana yanh didapat dari mana saja, sambung Haba.


Sumber lain, sebut saja hiba (bukan nama sebenarnya) menyebut, selain anggaran dari APBD, anggaran dari perusahaan perusahaan swasta juga selalu mengatas namakan organisasi A.

Tapi kita semua tidak ada yang tahu. Berbeda ketika ada giat untuk organisasi yang sekiranya kita harus patungan dengan uang sendiri baru kita dilibatkan, keluh Hiba yang diamini anggota lainnya.


Saat ditanya nama organisasi dan nama ketuanya. Mereka enggan "blak-blakan" memberikan jawaban.

Wes podo weruhe-lah mas (red: sudah sama-sama tahu lah mas), jawab mereka sambil terbahak bersama.




(Gading)